Jumat, 15 Juli 2011

EMPAT KUNCI KEBAHAGIAAN

 
Oleh : H Sulthon Abdillah

Setiap orang tentu ingin memperoleh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Rasululloh saw telah menyebutkan faktor-faktor dalam al hadits :

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ اْلمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَخُلَطَائُهُ صًالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ * رواه الديلمى
“Ada empat perkara dari kebahagiaan seseorang, yaitu : pasangan hidup  yang sholihat, anak – anak  yang baik / berbakti, pergaulaannya adalah dengan orang – orang yang sholeh dan rizkinya di negerinya sendir”i.  (HR Dailami)

Dari hadits tersebut rasululloh saw mengemukakan empat faktor yang membuat manusia bahagia diantara sekian banyak faktor. Empat faktor itu adalah sebagai berikut :

1. ISTERI YANG SHOLIHAT

          Kalau dunia ini adalah kesenangan maka kesenangan dunia yang paling pol adalah isteri yang solihat. Sabda rasululloh saw :

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ * رواه مسلم
Dunia ini adalah kesenangan. Dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah isteri yang sholihat.

Kalau dilihat dari manfaat atau faedahnya, seorang isteri yang sholihat itu peringkat kedua setelah ketaqwaan seseorang kepada Alloh.

مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ * رواه ابن ماجة
Seorang mu’min tidak mendapat faedah yang lebih baik bagi dia setelah takwa kepada Alloh dari pada isteri yang sholihat yang apabila dia perintah maka isterinya taat, jika dia memandang maka isterinya menyenangkan, jika dia bersumpah maka isterinya memperbaikinya dan jika dia pergi maka isterinya berbuat baik padanya baik di dalam dirinya maupun hartanya.

Seorang isteri yang sholihat yang yang bisa mendukung suaminya dalam urusan akhirot adalah merupakan harta simpanan paling pol.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ لَمَّا نَزَلَ فِي الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ مَا نَزَلَ (وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ* التوبة 34)  قَالُوا فَأَيَّ الْمَالِ نَتَّخِذُ قَالَ عُمَرُ فَأَنَا أَعْلَمُ لَكُمْ ذَلِكَ فَأَوْضَعَ عَلَى بَعِيرِهِ فَأَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا فِي أَثَرِهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَّ الْمَالِ نَتَّخِذُ فَقَالَ لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ اْلآخِرَةِ * رواه ابن ماجة

Alangkah bersyukurnya orang yang memiliki isteri yang sholihat. Adakalanya orang menjumpai isterinya sudah sholihat sejak dipersunting, bahkan yang membuat suaminya sholih adalah isterinya. Tapi adakalanya prosesnya bersama-sama ketika suami isteri sepakat memperdalam ilmu agama maka kedua-duanya menjadi sholih sholihat. Tapi adakalanya saat orang mempersunting seorang isteri dalam keadaan yang belum sholihat. Kalau kondisinya seperti ini maka seorang suami yang merupakan ro’in / kepala keluarga berkewajiban mendidik isterinya agar menjadi isteri yang sholihat. Yaitu dengan selalu menasihatinya dengan cara yang baik, lemah lembut. Karena pada dasarnya wanita itu diciptakan dari tulang yang bengkok yang tidak bisa serta merta bisa diluruskan, tapi melalui proses yang membutuhkan kesabaran.

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا * رواه مسلم كتاب الرضاع

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ* التغابون 14


2. ANAK – ANAK YANG BAIK / BERBAKTI

          Seorang anak yang sholih yang tekun beribadah, apalagi menjadi ahli alQuran adalah merupakan investasi pahala bagi kedua orang tuanya yang terus mengalir, yang akan membuat bangga di dunia dan di akhirot.

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا * رواه ابو داود كتاب الصلاة


إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَشْيَاءَ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ * رواه ابو داود كتاب الوصايا
Tapi untuk menjadi anak yang sholeh dan sholihat itu memerlukan perjuangan yang tidak ringan dan sebentar. Dari mulai masih kecil orang tua sudah mulai mendidiknya sampai beranjak dewasa.
Adakalanya tidak begitu sulit mendidiknya, bahkan kadang orang tuanya bukan orang yang baik tapi anaknya menjadi anak yang sholih. Akan tetapi umumnya orang tua harus mendidiknya mati-matian. Itu sudah menjadi kewajiban yang harus diemban orang tuanya.

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ... الحديث * رواه البخارى
أَكْرِمُوا أَوْلاَدَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ * رواه ابن ماجة كتاب الأدب

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ* التغابون 15

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ * روا الترمذى


3. PERGAULANNYA ADALAH ORANG – ORANG YANG SHOLEH

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً * رواه البخارى

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ * رواه الترمذى

عَنْ مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ لُقْمَانَ الْحَكِيمَ أَوْصَى ابْنَهُ فَقَالَ يَا بُنَيَّ جَالِسْ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ فَإِنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي اللَّهُ اْلأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ * موطأ مالك

4. MENCARI REZEKI DI NEGERI SENDIRI

          Meskipun yang diperoleh banyak, apabila rezeki itu diperoleh di tempat yang jauh dari keluarga, tetap saja lebih menyenangkan bila rezeki itu diperoleh di negeri sendiri. Namun bila orang harus merantau, maka bawalah keluarga ke tempat rantau, karena kehadiran suami isteri atau bapak ibu menjadi penting bagi keluarga.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar